Kalut

Koe ki arep dadi opo to le? Koe ki udu anak-anak 17 tahun lagi lo, koe mesti wes nduwe tujuan.(kamu mau jadi apa? kamu bukan anak-anak 17 tahun lagi loh, kamu harus sudah punya tujuan-dalam bahasa jawa) pertanyaan yang sulit tuk saya jawab bahkan oleh siapapun. Saya begitu shock mendengar pertanyaan itu keluar dari kata-kata ibu saya. saya langsung terdiam, seketika saja saya menjadi malu dengan diri saya sendiri, karena beliau telah meremehkan saya karena kemalasan saya namun memang pada nyatanya saya belum menjadi sosok yang patut untuk di banggakan oleh beliau.

Semua jadi terpikirkan, ingin seperti apa saya nanti, karena bagi saya ini sebuah ancaman untuk menjadi orang yang sukses dunia akhirat baik untuk saya pribadi keluarga dan maupun orang-orang disekitar saya. Apakah saya akan mampu bersaing jika saya hanya akan menjadi seorang yang seperti ini terus menerus? Terbesit ingin membuat sesuatu yang berbeda, namun pikiran saya seakan tumpul untuk mendapatkan kecerahan dalam mencari ide perubahan tersebut. Saya ingin seperti angin yang mampu meliuk-liuk disetiap hembusan, namun takut untuk salah arah, saya ingin menjadi air yang mengalir namun takut sulit untuk menghindari halangan didepannya karena air akan selalu membenturnya. Hingga saya sadar kalau saya harus seperti api, api yang dapat membakar segalanya. Namun bagaimana saya bisa menjadi api? Api selalu membutuhkan sesuatu yang dapat menjadi kekuatannya dalam berkobar, dan saya sadar saya belum memilikinya.

Bagaimana saya mendapatkan bahan untuk membuat api dalam diri saya bekobar? Saya tidak mau menjadi api yang akhirnya padam dan menjadi abu karena kehabisan bahan untuk tetap mempertahankan nyala dari lidah yang menjilat-jilat. Saya merasa belum menemukan makna dari kehidupan. Hidup berputar terasa begitu perlahan dan santai bagi saya. Saya berusaha mencari kehidupan saya namun saya bingung kemana untuk mencarinya.

Namun saya sadar bahwa semua kehidupan tidak akan berubah bila kita tidak merubah, setidaknya saya berusaha untuk merubah. Tapi ternyata merubah jalan kehidupan tak semudah membalikkan telapak tangan. Oke mari saya rubah dari hal yang terkecil yaitu kesulitan saya bangun dipagi hari.

6 Komentar

Filed under Coretan Pribadi

6 responses to “Kalut

  1. Kaditha Alrasyied

    Sinau le,, Sinau…..
    ojo ndolan wae ….

    hahahha😀

  2. devi

    opo to ndo..ndo..
    ora mudeng mode on😀

  3. dyahkrisnawatitindyarto

    kowe kudu manut marang ibumu yo le?
    dadi’o uwong sing iso mbanggano wong tuo
    ojo ngisin-ngisini…..hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s